Mengenal Miyabi Yang Saya Kenal…..

Saya mempunyai keinginan kuat membuat tulisan dan memposting tulisan-tulisan itu dalam blog atau akun Facebook saya akhir-akhir ini. Mungkin saya lagi “puber” menulis. Puber yang membuat saya begitu girangnya mencet tuts-tut keyboard netbok saya. Bikin saya cepet lapar dan cepet haus, haus membaca. Sayangnya saya ditempat yang sulit untuk mengakses buku-buku bagus, karena langkanya toko buku. Entah ini prospek bisnis baru, atau karena tidak prospek maka nggak ada yang mau mendirikan toko buku. Sebuah pulau yang entah surga atau apalah…(nggak berani saya bilang neraka).

Namun ketika saya jalan-jalan saya ketemu dengan Miyabi, dengan akrab saya sapa dia:

Saya       : Hei Miss, how are you?

Miyabi  : Uapik Mas, piye pean? Sehat ta?

Saya       : I am fine miss, where are you going?

Miyabi  : Ape shooting mas, iki diundang wong Indonesia, film humor.

Saya       : are you sure?

Miyabi  : Iyo mas pengen nyoba maen film humor…

 

Percakapan saya terhenti karena mobil jemputan Miyabi sudah datang. Wah Miyabi bodimu (alamak, pikir saya dalam hati melihat dia masuk mobil jemputan dengan melambaikan tangan. Dari kepergian Miyabi itu saya jadi berfikir, bahwa ternyata persepsi saya tentang Miyabi salah, karena berita teman saya. Dia mengatakan Miyabi itu bukan orang baik, eh dia ternyata cantik dan baik lho…

Tak jauh dari situ saya melihat ada segerombolan massa yang berjubah, berjenggot, dan memakai surban sambil menenteng kayu, batu, dan beberapa spanduk mencaci maki Miyabi, orang yang baru saja lewat dan berbincang dengan saya. Saya heran begitu bersemangatnya mereka. Sebagian mereka saya lihat mengelus-elus jenggotnya yang dibiarkan memanjang. (saya pernah diskusi dengan beberapa orang seperti ini, mereka menganggap jenggot merupakan sebuah indikator keimanan seseorang, wah saya jadi berpikir bahwa kambing saya juga beriman)

Ditengah kerumunan itu saya ketemu dengan ubed, temen saya yang agak kocak. Sambil dengan semangatnya dia bilang, “ayo mas ikut rame-rame nolak kedatangan Maria Ozawa, itu tuh bintang film porno yang dari luar sono”. “Wah kok ente tahu kalo Maria Ozawa itu bintang film porno?”, tanya saya dengan heran. “wah mas’e ki ketinggalan zaman seh, wong itu bintang film favorit saya kok, itu yang ada di HP ma Laptop saya itu lho mas”,ujar dia berapi-api. Iku lho mas, si Miyabi, lanjutnya. Wah saya baru tahu kalo Maria Ozawa itu Miyabi, lha ente nih nolak kedatangan’e Miyabi pa Maria Ozawa lho?, saya bertanya sambil nyengir. “Yo pade bei lho Mas..”, timpal Ubed.

Ini yang saya sebut pengetahuan mendalam tapi tak arif (kamus baru dalam hidup saya). Saya ini kadang punya pengetahuan mendalam tapi kurang arif dalam menyikapi sesuatu. Saya lupa bahwa ada substansi dalam setiap pengetahuan. Saya mungkin bukan satu-satunya orang yang merindukan saat dimana saya saya bisa berdiri kokoh dengan kearifan dan pengetahuan saya. Dimana saya bisa bersandar pada pengetahuan dan kearifan saya secara mandiri. Bahkan mungkin saya jga bukan satu-satunya orang yang pengen banget bisa dijadikan tempat curhat bagi orang sekeliling saya karena saya  dikenal arif. (sayang dibagian ini kadang saya gagal).

Pun begitu saya juga berfikir tentang ingar-bingar demonstrasi penolakan Miyabi ke Indonesia. Saya pikir inilah kelemahan kita sebagai bangsa, kita kurang memahami substansi menjadi suatu bangsa. Bahwa ada mekanisme, ada prosedur, ada proses dan ada tujuan kita menjadi bangsa. Segerombolan orang yang sering mengatas namakan pembela kebenaran, pembela agama dan pembela yang lainnya berkeliaran menjalankan misi masing-masing. Mereka acap kali memaksakan kehendak kebenaran mereka. Padahal saya pikir kebenaran itu adalah suatu ajaran yang datang dari sumber yang dianggap benar (bukan memaksakan benar) dan kemudian diyakini hati sebagai kebenaran (bukan dipaksakan oleh orang lain benar). Karena saya yakin, kebenaran yang dipaksakan pun tidak akan bertahan lama, sebelum ia diyakini hati. Ia tidak akan kokoh menghadapi ketidak benaran yang akan datang.

Kita harus selami lebih dulu sebuah masalah sebelum kita mulai mencari solusi. Karena dokter pun selalu melakukan diagnosa awal sebelum pengobatan. Kita mulai dengan kedatangan Miyabi, jikalau ia merupakan bintang porno kemudian kita tolak datang, saya pikir satu hal harus kita selesaikan. Bahwa ternyata bangsa kita terlalu porno, sehingga kita begitu dekat mengenal Miyabi, bintang film porno yang ada di negeri lain. Apa yang salah?. Bahwa sekian persen anak-anak negeri telah mengenal Miyabi dengan baik, sehingga mereka tahu bahwa Miyabi bintang porno. Artinya sebaran film porno telah sedemikian masif di negeri kita ini.

Yang saya maksud dengan perbuat arif dalam menyikapi Miyabi adalah menanggapi sesuatu dengan prosedur dan proses bernegara. (ah….saya kok kelihatan seperti negarawan yah). Begini menurut saya, Miyabi memang artis porno. Tapi jika kedatangannya tidak ada kaitannya dengan ke-porno-annya, apa iya sikap kita menentang itu benar?. (that’s it). Lalu bagaimana jika kita menyinyalir ada unsur iktikad ke-porno-an dalam film yang akan diperani Miyabi?. Jawaban saya secara normatif  adalah, kita aktifkan perangkat penyaringan film di negeri kita, lembaga sensor film, atau perangkat yang lain. Kita tunggu proses yang mereka lakukan. ( that’s what i say “arif dalam proses”). Lalu jika mereka tidak memeriksa dengan baik dan meloloskan film Miyabi yang porno, kita selidiki ada unsur kesengajaan tidak, ada unsur korupsi tidak?. Jika ada disidangkan, seret mereka ke penjara, telanjangi mereka yang telah mengizinkan masyarakat menonton film telanjang.

Ada kegalauan dalam hati saya, jika masyarakat kita sudah tidak bisa arif, bahkan selalu berpikir bahwa anarkisme adalah jawaban, lalu bagaimana nasib negara kita ini?. Sudah banyak korupsi, banyak pelanggaran HAM, banyak pula kekerasan dan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap peraturan rendah. (bisa-bisa saya gak punya kebanggaan atas negeri ini). Saya punya catatan tersendiri, bahwa hari ini yang mau “mengadili” Miyabi dengan cara hukum jalanan, adalah kelompok orang-orang yang dulu mendukung dengan getol UU anti pornografi dan pornoaksi. Mereka yang hampir dengan cara yang sama mendukung disahkan UU tersebut. Lha jika toh, mereka tidak percaya kepada hukum negeri ini, kenapa dulu mereka mendukung UU itu disahkan?.

Tapi hal lain yang saya pahami adalah, bahwa aksi itu tidak lebih menunjukkan bahwa kita adalah bangsa yang hampir saja menjadi “bangsa porno”. Demikian rupa kita tolak kedatangan Miyabi, tapi perkembangan industri porno dalam negeri pun bergerak demikian dinamisnya. Yah saya tahu karena saya sering melihat teman-teman nonton produk lokal tersebut. (untuk tidak mengatakan bahwa saya juga nonton).  By. Muhammad Asrori.

 

Dipublikasi di Artikel | Meninggalkan komentar

Baik itu apa?

Tulisan ini diilhami dari sms sahabat yang mampir ke handphone saya. Cerita tentang sahabat yang memperdebatkan kebaikan. Akhirnya saya mereka-reka beberapa adegan cerita.

Juki        : kira-kira apa yang pean bakal lakuin jika di dunia ini ada tempat khusus yang segala

perbuatan dosa tidak akan dicatat?

Ubed     : saya akan zina sepuas-puasnya, mabuk sepuas-puasnya, dan judi sepuas-puasnya…

Juki        : lalu kenapa sekarang tidak pean lakukan?

Ubed     : saya takut, malu….

Juki        : takut pa?

Ubed     : takut nek ketahuan pak RT waktu “gituan”, malu sama pean kalo ketahuan…hehehe.

Boleh jadi rekaan saya ini sekedar rekaan, tapi bisa jadi juga mewakili hasrat sebagian kita. Di dunia ini selalu muncul bintik hitam di mana kuas putih kita berjalan. Pun sebaliknya. Selalu ada bintik putih di mana sudut hitam kelam kita bertebaran. Hitam putih dunia kita selalu ada dan menjadi bagian tak terpisahkan dari hidup.

Secara berseloroh sahabat saya bilang agar saya (yang sama sekali tidak baik ini) tidak selalu berbuat baik. “Kasihan tuh si malaikat Atid gak dapet tambahan anggaran ATK, karena loe gak pernah dosa, khan ATK dia kagak habis-habis!”, kelakarnya. Naif memang, padahal semakin saya melakukan dosa, saya merasakan betapa nikmatnya merasakan ampunan. (Nah di bagian ini saya bingung saya merasakan nikmatnya ampunan atau nikmatnya dosa?). Secara sadar juga saya tengah mengisahkan bahwa sebenarnya setitik (atau tepatnya beberapa titik) hitam di kehidupan kita itulah yang menjadi identitas kemanusiaan kita ( ingat toh bahwa manusia tempat salah dan lupa).

Hitam itu menjadi hiasan indah karena kita dapat merasakan heningnya ampunan Allah yang tiada tara nikmatnya. Salah bagi kita lumrah, walau tidak harus salah terus. Kita juga begitu menikmati dosa (kalau ada yang menentang ini, saya mau tahu orangnya..hehehe), karena di balik itu kita juga tahu bahwa kita manusia berdosa dan lantas menikmati saat-saat kita bisa menangis menyesal dan berharap ampunan.

Tidak bisa saya pungkiri sejak lama, saya menyimpan keyakinan bahwa dunia kita yang paling nyata adalah dunia bawah sadar atau dunia mimpi kita. Di dunia itu kita nampak sebagai manusia seutuhnya, ceria, penuh ketakutan, kesenangan yang luar biasa, berani berbuat dosa, yang mau judi mimpi judi, yang mau “gituan” mimpi “gituan” dan lain sebagainya. Karena di dunia itu kita tidak takut dosa. Atau tepatnya begini, yang judi gak takut kalah dan bangkrut, atau takut dengan razia atau dipenjara, tepatnya lagi tidak takut malu karena dipenjara. Yang “gituan” juga disamping gak takut dosa, gak takut dituduh menghamili anak orang.

Saya juga termasuk orang yang tidak sepakat kalau sifat baik itu turunan dari leluhur, moyang atau bisa diwariskan. Maka saya juga kadang menolak (dalam hati) kalimat “keturunan orang baik, anak orang baik, dari keluarga baik-baik dan semacamnya). Karena kebaikan itu lebih bersikap dorongan hati, walau saya tak memungkiri lingkungan sering kali jadi “guru” baik buruknya seseorang. Namun tidak final bahwa keturunan orang baik selalu baik. Mungkin ini didorong rasa “iri” saya terhadap para kaum elit, baik keturunan bangsawawan, agamawan, atau wan-wan agung lainnya. Saya iri, lha kok mereka kadang tanpa jerih payah yang berarti kadang langsung jadi orang besar. “eh saya bukan orang besar, saya gendut gobl*k”, kata gus,anak kiai yang kebetulan karib saya memaki.

Saya mendengar teman saya berujar, “itu karena bapak-bapak mereka dulu juga sudah berusaha keras untuk menjadi orang besar, lah makane anaknya tinggal menikmati”. Lha saya pikir bapak saya juga sudah berusaha keras. “mbah mereka juga berusaha keras”, kata dia melanjutkan. Wah mbah saya juga, saya ngengkel. “Mosok yo kudu nyalahke moyangku toh yo?”, guman hati kecilku. Saya tetap pada kesimpulan baik tidak bisa diwariskan begitu saja, ia harus melalui proses dan itu dinamakan pendidikan moral (tidak mesti PMP dan PPkN). Wong yang sudah dididik begitu rupa saja kadang meleset dan jadi pelacur. Pelacur politik, pelacur masyarakat, sampai pelacur beneran. Untuk itu saya merasa bahwa menghormati keturunan orang baik itu perlu, untuk menghormati kebaikan orang tua mereka, etis tapi itu cuma menghormati, jadi keturunan orang baik itu juga masih harus berproses untuk menjadi orang baik.

Jadi, “wahai keturunan orang baik, apakah kamu merasa baik-baik saja setelah kamu dinamakan keturunan orang baik. Padahal kamu harus belajar, belajar menghargai sesama makhluk hidup, menghargai jerih payah orang lain, menghargai Tuhan yang telah menciptakan beberapa makhluk yang sering kamu hina. Kamu juga harus mendengar kritik supaya kamu tidak menyesal dan menjadi orang yang merugi” (Bukan Qur’an).

Lalu bagaimana dengan dakwah (entah apa definisi formalnya)?. Yang jelas menurut saya dakwah bukan bertujuan menghilangkan sama sekali titik hitam didunia ini. Dakwah hanya mencegah pertumbuhan dan laju inflasi dari titik hitam di dunia ini yang selalu progresif. Karena dakwah itu perintah Allah SWT, maka ia sama sekali tidak akan menentang kehendak Allah sendiri. Yang menjadikan bumi ini berwarna dengan dosa dan pahala, baik dan buruk, dan seterusnya. Maka melakukan bom bunuh diri, menuduh orang lain yang tidak sefaham salah atau kafir, menembaki orang yang tak bersalah. Dengan maksud memaksakan kebaikan yang diyakini, sama saja menentang kehendak Allah (sunatullah), bahwa baik dan buruk itu bersanding. Dan kebaikan takkan ada tanpa keburukan. (mari kita bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Pembalas Kebaikan, karena ia telah mencipta keburukan untuk kita sadari).

Terakhir saya tutup tulisan saya ini dengan rekaan.

Juki        : lha kalo pean takut dosa pean dicatat kenapa pean selalu berdosa?

Ubed     : yah, gimana lagi karena Tuhan tidak pernah menciptakan suatu tempat kita bebas berdosa

tapi tak dicatat….

by. Muhammad Asrori Munir

Dipublikasi di Artikel | 1 Komentar

Jika Tuhan Berkehendak

Puasa, merupakan kehendak Tuhan. Jika, Ia menghendaki pahala, itu hak Dia. Jika Ia menghendaki kita tidak menikmati pahala. Maka itu pun bukan masalah. Karena sebagai yang tercipta, kita hanya bisa melakukan yang Ia kehendaki. Tanpa kehendakNya pun kita bukan apa-apa bukan?

Dipublikasi di Artikel | Tag | Meninggalkan komentar

Mari Berusaha Sendiri!!!

Sering kita dengan singkatan UKM, adapula UMKM. Yang pertama berarti Usaha Kecil Menengah, yang kedua berarti Usaha Mikro Kecil Menengah. Jika kita dengar singkatan-singkatan itu yang terpercik dipikiran kita hanya usaha kecil yang beromset kecil. Namun, tak pernah kita sadari, bahwa usaha tetaplah usaha yang harus kita coba dan hargai. Kita sering memilih menjadi pengangguran daripada usaha kecil-kecilan. Padahal pengangguran tidak akan lebih sejahtera dan terhormat dari orang yang mempunyai usaha walau kecil.

Kita juga lebih senang kesana-kemari cari lowongan dan kerjaan, dengan map kumal berisi ijasah daripada mencoba untuk berusaha membuat usaha kecil-kecilan. Sringkali ditambah dengan ego gelar. Sarjana Penjual Sayur, sarjana Penjual Ayam, Sarjana Petis, justru menjadi olok-olokan. Jika itu bagi anda olok-olokan, maka bagi kami adalah penghargaan. Kalau anda sepakat dengan kami, bergabunglah dalam blog ini, mungkin saja ada usaha kecil yang dapat kami tawarkan.

Salam hangat

Admin

Dipublikasi di Artikel | Meninggalkan komentar

Apa arti selodingin bagi saya?

Assalammu’alaikum war. wab. Saudara-saudara yang terhormat. Selamat datang di laman perubahan. hidup yang keras menjadikan kita manusia seutuhnya, jika kita peduli. Saudara-saudara yang terhormat blog ini mungkin agak “aneh” dalam namanya. Mohon maaf, tapi jika anda baca seakan selodingin adalah salah satu tempat wisata yang nyaman, sejuk dan indah.  Atau mungkin bayangan orang yang antri karcis untuk masuk area air terjun, banyak pedagang disana-sini dan senyum warganya mengembang penuh harap. tapi tidak saudaraku!. Selodingin adalah nama desa, dusun tepatnya yang ada di Panceng yang saya kira banyak luput dari perhatian. Terletak ditengah hutan jati didaerah Pantura ke arah Paciran. Jalan desa ini masih jalan makadam, rusak disana-sini. Kondisi ditengah hutan yang jelas tidak memberi nyaman. Ada jembatan yang hanya terbuat dari Jati gelondongan. Yang saya bayangkan pertama kali adalah, jika saja ada orang yang harus melahirkan malam hari. Maka, ia harus melewati jalan tengah hutan yang sama sekali tidak nyaman, dan terutama jauh. Anak-anak yang sekolah di desa (dusun) ini, harus berjalan keluar dari hutan  (dusun) untuk mendapatkan pendidikan mereka yang layak. Bukan hanya di belitung, lokasi laskar pelangi ada ketidak merataan pendidikan. Di Kota/Kabupaten seperti Gresik pun masih ada banyak ketidakadilan dalam memperoleh akses pendidikan. Maka, di laman ini saya coba berbagi, bahwa masih banyak ketidakadilan. Salah satunya adalah di Selodingin, nama yang bagus, namun mengecoh. Pun begitu politik dan keadaan negara kita banyak yang menipu. Pelacur bisa kita lihat kasat mata, tapi pelacur kebijakan yang tidak peduli dengan rakyatnya seperti yang ada di Selodingin tentu sulit kita lihat. Bukan hanya sulit kita lihat, kalaupun kita lihat akan sulit kita “usir”, karena dia memang berkuasa. Demi Allah, alam menanti perjuangan kita wahai pemuda. Jangan ada Selodingin berikutnya!.

Dipublikasi di Uncategorized | 1 Komentar